Universitas Islam Al-Ihya Kuningan
Lokakarya KKN UNISA

Unisa.ac.id, CigugurMahasiswa peserta kuliah kerja nyata Universitas Islam Al-Ihya, Kamis (17/3) menggelar lokakarya, dengan tema “Bersama UNISA, menggali potensi menuju desa mandiri.” Beragam temuan lapangan dibahas dan disampaikan kepada Pemerintah Daerah Kab. Kuningan guna ditindaklanjuti.

Hadir mewakili Pemerintah Daerah Kuningan dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Camat Pancalang, Mandirancan dan Pasawahan yang didampingi oleh kepala desa tempat mahasiswa melaksanakan KKN.

Rektor Unversitas Islam Al-Ihya Kuningan H.A. Nana Rusyana didampingi ketua pelaksana kegiatan H. Dadang Sukandar Yusup menerangkan, lokakarya ini diikuti oleh seluruh mahasiswa peserta kegiatan KKN. Menurutnya, hasil temuan dan pencatatan selama melaksanakan tugasnya, satu persatu perwakilan para mahasiswa menyampaikan langsung kepada pemerintah.

“Pelakasanaannya di 13 Desa dan di tiga Kecamatan. Masing-masing peserta melakukan penelitian, membuat program dan wajib menyampaikan semua temuannya dalam lokakarya ini,” kata Nana di Aamini Dadang.

Menurutnya, hasil pembahasan lokakarya itu akan dijadikan rekomendasi tertulis dan diajukan kepada pemerintah daerah. Setiap bidang yang dimusyawarahkan, baik temuan dibidang pendidikan, kesehatan, keagamaan dan pariwisata maupun bidang lainnya, menjadi masukan penting bagi pembangunan Kuningan.

“Hasil lokakarya ini akan secepatnya kita sampaikan kepada Pemerintah Daerah melalui BPMD, karena masih ada waktu mahasiswa kami di lokasi KKN, mudah-mudahan bisa ditindaklanjuti secepatnya juga,” tuturnya.

Masalah umum yang ditemukan mahasiswa selama kegiatan adalah minimnya kesadaran masyarakat dalam membiasakan prilaku hidup bersih dan sehat. Menurutnya, khusus dalam pengelolaan sampah, masyarakat masih memandang sampah sebagai musuh kehidupan.

“Belum sampai pada tingkat pengelolaan. Untuk masalah sampah masih menjadi PR bersama untuk dikelola dengan baik. Adapun bak sampah yang dibuat oleh mahasiswa masih perlu tindaklanjutnya,” katanya.

Karena itu diakuinya, fokus garapan mahasiswa selama kegiatan adalah bagaimana merubah pola pikir dan sumber daya masyarakat. Adapaun mengenai pembangunan fisik, hanya berperan aktif membantu pemerintah desa dalam melaksanakan programnya.

“Rata-rata lebih fokus ke pembangunan SDM. Karena untuk pembangunan fisik, pemerintah desa saat ini sudah optimal,” katanya.

Dia berharap, hasil kegiatan pengabdian itu bisa menggali potensi desa guna mendorong kemandirian wilayah. Selain itu, mampu juga mencapai tugas fungsi mahasiswa dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi. (om)